Thursday, January 15, 2009

MENARA BTS AKAN DIGANTI SERAT OPTIK


Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo berniat membabat ribuan menara, dari 2500 disisakan 700, karena dianggap telah membuat Jakarta sebagai hutan menara. Padahal tanpa disuruh dan deprogram, justru hutan betulan, pepohonan di kota, sudah dibabat masyarakat yang butuh lahan untuk pemukiman.

Alasan Foke – panggilan akrab gubernur berkumis ini – benar adanya, karena banyak orang merasa bahwa keberadaan menara telekomunikasi di kota dan pemukiman sudah sampai pada tingkat menyebalkan. Entah bagaimana perasaan dan pertimbangan para birokrat pemda DKI dulu ketika memberi izin mendirikan bangunan (IMB) untuk menara di seluruh wilayah kota.

Kenyataannya, dalam satu radius yang tak sampai 50 meter, berdiri dua, tiga, bahkan empat menara telekomunikasi dari operator yang berbeda, selain dari segi estetika, pembangunan beberapa menara dalam satu lokasi yang sangat berdekatan berkesan mubazir, penghamburan sumber daya. Kalau saja tiga atau empat operator menggunakan satu menara, berapa banyak sumber daya dan sumber dana yang bisa dihemat yang dapat digunakan untuk kebutuhan lain demi kemaslahatan masyarakat.

Program pembabatan menara sangat meresahkan para operator, juga para penyedia menara, karena DKI belum member lampu hijau menara mana yang boleh tetap berdiri, menara mana yang harus ditumbangkan. Yang berdiri pun harus ditumpangi oleh sedikitnya tiga operator, tidak boleh hanya dipakai oleh satu operator.

Kebijakan ini juga menggema ke seluruh nusantara, meski ada yang sudah menerapkannya jauh hari sebelum Ibu Kota, karena para birokratnya, juga wakil-wakil rakyat mereka memiliki pandangan jauh kedepan. Di kota atau kabupaten yang birokratnya berpandangan maju ini, korban yang bertumbangan sangat sedikit, bahkan tidak ada, karena sejak awal sudah diarahkan dan diatur.

Di sisi lain, ketika ada kewajiban pemerintah (Depkominfo) soal menara bersama yang terbit sangat terlambat, tidak membuat bisnis menara menjadi tidak menarik. Sangat menarik karena banyak operator yang tidak lagi merasa perlu membangun menara sendiri karena bisa menyewa kepada pemilik menara atau operator lain yang titik koordinatnya sama dengan kebutuhan operator tadi.

Memang jadinya menyesakkan dada misalnya Telkomsel yang sudah punya 22.000 menara di seluruh tanah air dan harus menyewakannya kepada sedikitnya dua operator lain yang pasti jadi pesaingnya. Sementara operator baru tidak perlu biaya yang sangat besar untuk memperluas jaringannya, karena tak harus membangun menara sendiri, cukup menyewanya.

Itu sebabnya kenapa operator baru, yang masih kelas anak bawang sekalipun, jaringannya bisa tiba-tiba luas karena bisa menempelkan antenna BTS mereka di menara “musuh” tanpa takut dijahili, ketakutan yang sejak lama melanda pada operator. Pertumbuhan pelanggan dan cakupan operator baru bisa lebih cepat dan murah dibanding operator incumbent (perintis), yang sudah lama menguasai pasar, apalagi dengan harga perangkat BTS yang makin murah saja.

Foke berpendapat lebih maju, kalau perlu Jakarta tidak mengizinkan satu pun menara berdiri, sementara perluasan jaringan operator masih bisa dilakukan tanpa menara. Memang sejak lama sudah dipikirkan, bahkan sudah dilakukan PT. Excelcomindo Pratama, untuk membangun jaringan serat optik di perkotaan sebagai tulang punggung jaringan seluler mereka.

Jakarta berpikiran akan menjadi operator atau penyedia prasarana serat optik bagi semua operator seluler. Paling tidak DKI akan menyediakan terowongannya, jaringan pipa bawah tanah, yang memungkinkan operator menggelar serat optiknya. Jika ini terwujud, Jakarta akan menangguk pemasukan yang sangat besar dari bisnis terowongan, karena semua operator digiring untuk menyewanya.


Jaringan serat optik diakui jauh lebih sempurna dibandingkan jaringan radio yang rawan cuaca selin membutuhkan menara untuk penyebaran (transmisinya). Kapasitas koneksi serat optic bisa ribuan kali, kalau tidak mau disebutkan ratusan ribu kali kapasitas jaringan radio yang didukung menara.

Beberapa Negara di Asia tenggara pun sudah banyak yang menerapkan teknologi serat optic untuk perluasan jaringan telekomunikasi mereka, seperti Malaysia dan Singapura. Dan beberapa vendor telekomunikasi kelas dunia juga berlomba-lomba mengembangkan teknologi ini untuk dipasarkan. Salah satunya adalah Alcatel, vendor asal Perancis ini sudah sejak lama dikenal memilki teknologi yang canggih untuk pengembangan jaringan berbasis serat optik.

Jaringan operator pun, dengan dukungan serat optic tidak akan mengganggu estetika sebab BTS mereka akan hanya setinggi – atau ditempelkan di tiang listrik, papan reklame, dinding gedung, bahkan menara masjid.

Walaupun jangkauan antenna yang hanya setinggi tiang listrik, namun jangkauan sinyal bisa lebih luas dan padat karena jumlah antenna bisa diperbanyak. Tinggal lagi bagaimana mengelola penggunaan kembali (re-use) frekuensi yang sangat sedikit jumlahnya sehingga bisa optimal dan melayani lebih banyak percakapan pelanggan.

Masa dimana menara menjadi kebutuhan pokok prasarana telekomunikasi seluler, kata beberapa pengamat, mungkin tinggal 7 sampai 10 tahun lagi, karena makin maraknya penggunaan serat optic dan BTS mini. Apalagi misalnya Ericsson, vendor asal Swedia ini sudah mengembangkan teknologi BTS yang tidak perlu catu daya listrik PLN atau generator, cukup dari sel tenaga surya yang gratis. Saat ini kebutuhan listrik per BTS di atas 12.000 watt, sementara BTS mini tadi hanya perlu 500-an watt.

Era menara yang tinggi juga akan meredup dengan munculnya teknologi baru, Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang tidak butuh menara banyak. Teknologi radio yang di Indonesia dialokasikan pada frekuensi 2,3 GHz dan 3,3 GHz itu jangkauannya sampai 50 kilometer, jauh lebih luas cakupannya dibanding BTS GSM yang pada menara setinggi 42 meter jangkauannya sekitar 2 km.

Dengan Wimax, kota Jakarta mungkin hanya butuh tak sampai 5 menara BTS Wimax, padahal sekarang ada 2.500 BTS tidak termasuk Pole yang dipasang orang di atap gedung tinggi. Wimax juga menjadi penyelamat ketertinggalan 38.000 desa di seluruh Indonesia yang belum mendapat akses telekomunikasi.

Wimax digunakan untuk USO (Universal Service Obligation) karena keunggulan cakupan tadi, sehingga dengan teknologi ini lebih dari satu desa bisa tercakup oleh satu menara. Namun untuk USO yang merupakan proyek pemerintah dan segera ditender ulang, frekuensi yang digunakan sudah dialokasikan pada kisaran 2,4 GHz.